Selasa, 30 Agustus 2011

Umar bin Khattab

Di sebuah rumah, di tengah-tengah perkampungan suku Quraisy, lahirlah seorang bayi laki-laki dari seorang ibu yang mulia. Bayi itu bernama Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdul ‘Uzza bin Ribah bin ‘Aidy bin La’ab bin Al-Qurasy. Ia lahir pada tahun 583 M, sebelum meletusnya perang Fijr yang terjadi di Mekkah kurang lebih selama 4 tahun.

Ibunya bernama Hantimah binti Hasim bin Al-Mughirah bin Abdillah bin Umar bin Mahzum.

Umar tumbuh dengan baik, layaknya anak-anak suku Quraosy lain. Dia bahkan Nampak lebih menonjol daripada teman-temannya, karena belajar membaca dan menulis, sehingga dalam usianya yang muda, ia telah sangat fasih dan kritis terhadap kebenaran.

Menginjak usia remaja, ia mulai membantu ayahnya mengembala ternak di sekitar Mekah. Orang-orang Quraisy memang biasa mengamanatkan pada anak-anak mereka, untuk mencarikan rumput guna memenuhi kebutuhan makan ternaknya.

Berangsur-angsur, mulai Nampak tanda-tanda kekuatan Umar. Badannya tinggi besar, melabihi teman-temannya. Ia juga seorang yang murah hati dan dihormati kaumnya. Ia pun memiliki kesadaran tinggi. Berkulit putih, pemberani, pekerja keras dan bila berjalan sangat cepat.

Sejak masih muda ia telah mempelajari berbagai macam latihan kecakapan fisik, seperti gulat. Bahkan dalam sebuah riwayat diceritakan, ia pernah membanting seorang pemuda sombong dan membanggakan kekuatannya di pasar Ukadh. Ia sangat mahir menunggang kuda, sampai-sampai terkenal sebagai penunggang kuda yang piawai. Ia juga pandai membuat syair dan mempunyai perasaan yang halus dalam menghayati syairnya. Disamping itu, ia pun pandai manghafal nasab orang-orang Arab, melebihi kemampuan teman-temannya. Yang demikian ini ia pelajari dari ayahnya, sehingga ia menjadi seorang yang benar-benar pandai dalam bidang silsilah orang Arab.

Umar pun dikenal piawai dalam berdiplomasi dengan gaya bahasanya yang sangat baik. Karena itu orang-orang Quraisy sering mengutusnya sebagai mediator perdamaian, jika terjadi perang antara mereka dengan kelompok lain. Mereka merasa rela dengan keputusannya.

Selama hidupnya, ia menikah sembilan kali dan mempunyai dua belas anak; delapan orang laki-laki dan empat orang perempuan.

Berkali-kali ia pergi berdagang ke negeri Syam dan Yaman. Kekerasan dan kekejaman dunia perdagangan tidak menimbulkan kesulitan berarti baginya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar